Upacara Adat Pernikahan

December 31, 2025

DAPOBUD-OPK: Adat Istiadat,

Upacara pernikahan Jawa di Pondokrejo merupakan perpaduan antara adat Jawa murni dengan nilai-nilai agama Islam, dan dibagi menjadi tiga tahap utama: Pra-Nikah, Inti, dan Pasca-Nikah.

a) Tahap Pra-Nikah

Fase ini berfokus pada persiapan spiritual, membersihkan diri, dan memohon restu leluhur.

1. Lamaran & Peningset
Pihak calon pengantin pria mendatangi keluarga wanita untuk melamar secara resmi
dan menyerahkan Peningset (seserahan), sebagai tanda pengikat dan keseriusan.

2. Pasang Tarub & Tuwuhan
Mendekorasi area rumah yang akan menjadi tempat upacara dengan Tarub (tenda) dan Tuwuhon (tanaman berbuah, seperti pisang raja dan tebu). Melambangkan harapan akan kehidupan rumah tangga yang berlimpah dan memiliki keturunan.

3. Siraman
Calon pengantin dimandikan dengan air kembang tujuh rupa oleh kedua orang tua dan sesepuh. Melambangkan pembersihan diri secara lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru.

4. Adol Dhawet
Calon pengantin wanita (didampingi ibu) menjual dawet kepada tamu. Ritual ini melambangkan keramaian dan harapan agar rezeki selalu mengalir.

5. Midodareni
Malam sebelum akad nikah. Calon pengantin wanita berdiam diri di kamar (midodareni dari kata widodori = bidadari), melambangkan calon pengantin pria hanya boleh melihat calon istrinya setelah sah. Malam ini juga digunakan untuk nasihat terakhir dari orang tua.

b) Tahap Inti: Akad dan Panggih

Fase ini adalah Inti dari pernikahan, yaitu pengesahan secara agama dan adat.

1. Ijab Qabul/Akad Nikah
Pengesahan pernikahan secara agama dan hukum. Ini adalah momen paling sakral dan merupakan penentu sah atau tidaknya pernikahan.

2. Upacara Panggih (Temu)
Pertemuan pertama kali kedua mempelal sebagai suami istri setelah ljab Qabul. Ini adalah puncak ritual adat.

3. Balangan Gantal
Saling melempar gantal (sirih yang diikat). Melambangkan kasih sayang dan janji suci untuk saling menyayangi.

4. Ngidak Wiji Dadi
Mempelai pria menginjak telur hingga pecah, lalu kaki mempelai pria dicuci oleh mempelai wanita. Melambangkan kesiapan pria menjadi kepala keluarga dan bakti istri kepada suami.

5. Kacar Kucur
Mempelai pria mengucurkan biji-bijian, uang receh, dan hasil bumi ke pangkuan mempelai wanita. Melambangkan pemberian nafkah dan kesediaan suami bertanggung jawab atas rezeki keluarga.

6. Dulangan (Kembul Dhahar)
Kedua mempelai saling menyuapi nasi kuning. Melambangkan kesepakatan untuk hidup rukun dan berbagi suka serta duka dalam rumah tangga.

7. Sungkeman
Kedua mempelai sungkem kepada kedua orang tua, memohon doa restu dan meminta maaf atas kesalahan di masa lalu.

c) Tahap Pasca-Nikah

Fase setelah Panggih, umumnya dilakukan sebagai penutup rangkalan adat.

1. Boyongan
Pengantin wanita dijemput untuk dibawa ke rumah pengantin pria (ngunduh mantu). Tradisi ini menandai perpindahan status wanita dari keluarga asal ke keluarga suami.

2. Resepsi
Pesta perayaan dan jamuan makan untuk masyarakat umum. Tujuannya adalah syukuran (rasa syukur) dan pemberitahuan kepada publik tentang sahnya pernikahan kedua mempelai.

Upacara pernikahan ini bukan sekedar tontonan, tetapi serangkaian doa dan harapan yang diwujudkan melalui simbol-simbol, agar kedua mempelai dapat membangun rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, war Rahmah.