Nyadran adalah rangkaian upacara adat masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada bulan Syaban (bulan Jawa: Ruwah), yakni bulan yang mendahului datangnya bulan suci Ramadan. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi antara budaya lama dengan nilai-nilai Islam, menjadikannya ritual penghormatan leluhur sekaligus sarana penyucian diri.
a) Makna dan Tujuan
Kata Nyadran berasal dari kata Sanskerta sraddha yang berarti keyakinan, atau dari kata Jawa sodron yang dihubungkan dengan bulan Ruwah. Tujuan utama tradisi ini meliputi:
- Ziarah dan Doa: Mendoakan leluhur dan ahli kubur sebagai wujud bakti (birrul walidain).
- Pembersihan Diri: Membersihkan makam dimaknai secara simbolis sebagai upaya membersihkan jiwa dari kotoran dan dosa menjelang Ramadan.
- Mempererat Silaturahmi: Momen berkumpulnya keluarga besar dan warga untuk memperkuat kerukunan sosial melalui makan bersama.
b) Rangkaian Prosesi
Di Kalurahan Pondokrejo, rangkaian Nyadran umumnya meliputi tahapan berikut:
- Pembersihan Makam (Besik): Dilakukan secara gotong royong oleh seluruh warga untuk membersihkan area makam dari rumput liar dan sampah.
- Ziarah dan Tabur Bunga: Keluarga mengunjungi makam leluhur, membersihkan nisan, dan menaburkan bunga (nyekar).
- Kendurl (Kembul Bujono): Puncak acara yang biasanya digelar di area makam atau balal pertemuan.
- Setiap keluarga membawa makanan dalam wadah tradisional (ambengan atau tenong).
- Menu wajib blasanya meliputi ayam ingkung, nasi tumpeng/gurih, urap sayur, dan lauk pauk lainnya.
- Makanan didoakan bersama (tahlil) yang dipimpin tokoh agama, kemudian disantap bersama-sama (kembul bujono) sebagai simbol berbagi rezeki.
