Wiwitan adalah ritual adat agraris yang dilakukan petani Jawa sebelum memulai panen padi. Istilah ini berasal dari kata wiwit yang berarti “memulai” atau “mengawali”. Mengingat wilayah Kalurahan Pondokrejo di Kapanewon Tempel memiliki lahan persawahan yang subur, tradisi ini masih dilestarikan oleh kelompok tani sebagai bentuk kearifan lokal menjaga keseimbangan ekosistem.
a) Makna dan Filosofi
- Wujud Syukur: Ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang melimpah dan perlindungan dari hama.
- Penghormatan Alam: Dalam kepercayaan tradisional, ritual ini merupakan penghormatan kepada alam, yang sering dipersonifikasikan sebagai Dewi Sri (Dewi Padi/Kesuburan).
- Harmoni Sosial: Momen berbagi rezeki antarwarga dan petani di tengah sawah (guyub rukun).
b) Ubarampe
Perlengkapan sesaji (ubarampe) dibawa ke sawah yang akan dipanen untuk didoakan oleh sesepuh desa atau kaum (Rols).
Ubarampe Utama:
- Nasi Tumpeng/Gurih (Sego Wiwit): Nasi bersantan lambang kemakmuran.
- Ayam Ingkung: Ayam kampung utuh yang dimasak bumbu opor/areh, melambangkan keutuhan niat dan hasil.
- Sayuran: Sayur nangka (gor/) atau sayur lodeh kluwih, serta jajanan pasar.
c) Tahapan Prosesi:
- Doa Bersama: Dipimpin oleh pemuka adat memohon keberkahan.
- Pemotongan Padi Pertama: Sesepuh memotong padi menggunakan alat tradisional ani-ani. Jumlah padi yang dipotong biasanya ganjil (misalnya 5 atau 7 tangkai).
- Persembahan Padi (Boyong Dewi Sri): Padi pertama ini dianggap simbol Dewi Sri dan diperlakukan khusus (disimpan atau diletakkan di tempat sesaji).
- Makan Bersama (Kembul Bujono): Seluruh ubarampe dibagikan kepada warga dan anak-anak yang hadir di pematang sawah, menandai dimulainya panen raya.
